GrandXXI

Film layar besar jarang berdiri sendiri. Ia bagian dari sebuah semesta: pahlawan yang saling mengenal, sekolah sihir yang dikunjungi delapan kali, galaksi yang perangnya berlangsung tiga generasi. Di sini 151 film disusun menurut semesta ceritanya dalam tujuh belas rak, dua belas untuk waralaba dunia dan lima untuk film Indonesia, dan tiap rak tersusun menurut urutan rilis.

Tujuh belas rak semesta

Marvel: babak awal, 2008 sampai 2015

Lihat semua (9)

Marvel: babak lanjut, sejak 2016

Lihat semua (14)

Spider-Man di luar Avengers

Lihat semua (5)

Dunia sihir Harry Potter

Lihat semua (10)

Dunia Tengah

Lihat semua (6)

Bajak laut Karibia

Lihat semua (5)

Petualang dan agen rahasia

Lihat semua (12)

Raksasa dan fiksi ilmiah

Lihat semua (17)

Saga remaja

Lihat semua (7)

Indonesia: tokoh dan sejarah

Lihat semua (6)

Indonesia: laga

Lihat semua (11)

Indonesia: keluarga

Lihat semua (7)

Indonesia: cinta dan iman

Lihat semua (5)

Indonesia: kisah cinta

Lihat semua (15)

Panduan GrandXXI

GrandXXI: layar besar menurut semestanya, 151 film dari Marvel dan Star Wars sampai layar besar Indonesia

Ada film yang selesai ketika lampu menyala, dan ada film yang baru dimulai. Yang kedua adalah film semesta: tokohnya muncul lagi tiga tahun kemudian, musuhnya ternyata bersaudara dengan pahlawan di film lain, dan satu adegan sesudah daftar nama membuat seisi bioskop bersorak. Menonton satu film berarti masuk ke dunia yang jauh lebih besar.

GrandXXI menyusun katalognya menurut dunia-dunia itu. Sebanyak 151 film layar besar ditempatkan dalam tujuh belas rak semesta: lima rak pahlawan super, empat rak dunia sihir dan epik, tiga rak petualangan, dan lima rak film Indonesia. Tiap film berada di tepat satu rak, dan tiap rak tersusun menurut urutan rilis.

Di bawah tiap poster ada pita kecil dengan nama semestanya: Marvel, X-Men, Dunia sihir, Star Wars, Bajak laut. Di sudut poster ada rating penonton dan durasi. Sekali lihat, Anda tahu film itu bagian dari cerita besar yang mana.

Mengapa memilih film dari semestanya

Film semesta punya satu persoalan yang dikenal semua penonton: dari mana harus mulai, dan film mana yang datang sesudahnya. Seseorang yang ingin menonton kisah para Avengers dihadapkan pada puluhan judul. Seseorang yang ingin mengenalkan Harry Potter kepada anaknya perlu tahu urutan delapan filmnya.

Menyusun rak menurut semesta menjawab persoalan itu sekaligus. Semua film dari satu dunia berdiri berdampingan, dari yang pertama dirilis sampai yang terakhir. Anda cukup memilih dunianya, lalu berjalan dari kiri ke kanan.

Cara ini juga memperlihatkan hal yang jarang disadari: betapa panjang umur sebuah cerita. Star Wars di katalog ini merentang 42 tahun. Indiana Jones merentang 24 tahun. Uraian gagasannya ada di Film menurut semestanya.

Cara semesta ditentukan

Tiap film masuk ke rak dunia ceritanya. Film tentang para Avengers dan kawan-kawannya masuk dua rak Marvel, yang dipisah pada tahun 2016 karena jumlahnya 23 film. Film Spider-Man yang dibuat di luar semesta itu punya rak sendiri bersama Venom, dan para mutan punya rak X-Men.

Delapan film Harry Potter dan dua film Fantastic Beasts berbagi rak dunia sihir. Enam film karya Peter Jackson berbagi rak Dunia Tengah. Film yang berdiri sendiri atau berasal dari seri pendek dikumpulkan menurut jenis petualangannya: petualang dan agen rahasia, raksasa dan fiksi ilmiah, serta saga remaja.

Film Indonesia jarang berbentuk waralaba panjang, sehingga 44 film nasional di katalog ini disusun menurut jenis ceritanya: tokoh dan sejarah, laga, keluarga, cinta dan iman, serta kisah cinta. Kasus perbatasan dibahas di Satu tokoh, banyak semesta.

Papan semesta di beranda

Di bawah judul halaman ada papan dengan empat baris. Baris emas memuat lima rak pahlawan super. Baris biru muda memuat empat rak sihir dan epik. Baris hijau memuat tiga rak petualangan. Baris terang memuat lima rak Indonesia. Tiap petak bernomor 01 sampai 17 dan menyebut jumlah filmnya.

Tekan sebuah petak dan halaman bergulir ke baris poster rak itu. Tiap baris menampilkan enam film paling dikenal dalam urutan rilis, dengan tombol "Lihat semua" untuk membuka rak lengkapnya. Di bawah tujuh belas baris ada panduan yang sedang Anda baca.

Bagi pengunjung baru, langkah-langkah pertama dirangkum di Mulai di GrandXXI.

Rak 01: Marvel, babak awal, 2008 sampai 2015

Sembilan film yang membangun semesta film terbesar dalam sejarah bioskop. Rata-rata ratingnya 7,04, dan urutan rilisnya adalah urutan menonton yang disarankan.

Semuanya bermula dari Iron Man tahun 2008, berating 7,7, tentang pembuat senjata yang membangun baju besi di sebuah gua. Tahun itu juga hadir The Incredible Hulk. Lalu Iron Man 2, Thor, dan Captain America: The First Avenger memperkenalkan para pahlawan satu per satu.

Tahun 2012 mereka berkumpul dalam The Avengers, berating 8,1 dan tertinggi di rak ini. Untuk pertama kalinya, tokoh dari lima film berbeda berdiri dalam satu bingkai. Sesudahnya datang Iron Man 3, Thor: The Dark World, dan pertemuan kedua, Avengers: Age of Ultron.

Rak 02: Marvel, babak lanjut, sejak 2016

Empat belas film, rak terbesar di GrandXXI, dengan rata-rata rating 7,44. Semesta ini melebar ke sihir, kerajaan tersembunyi, dan dunia sejajar, lalu mencapai puncaknya dalam dua film.

Puncak itu adalah Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame, sama-sama berating 8,2. Film kedua berdurasi 181 menit, tiga jam satu menit, dan menutup cerita yang dibangun selama sebelas tahun.

Di sekitarnya berdiri Doctor Strange, Black Panther, Captain Marvel, Ant-Man and the Wasp, dan tiga film laba-laba: Spider-Man: Homecoming, Spider-Man: Far From Home, dan film ketiganya pada 2021, yang mencatat 7,9.

Sesudah puncak itu, semesta terus berjalan dengan Black Widow, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, Eternals, Doctor Strange in the Multiverse of Madness, dan Guardians of the Galaxy Vol. 3, yang juga mencatat 7,9.

Rak 03: Spider-Man di luar Avengers

Lima film dari masa ketika manusia laba-laba berdiri di semestanya sendiri. Rata-rata ratingnya 6,77.

Spider-Man 2, tahun 2004, memimpin dengan 7,3 dan masih sering disebut salah satu film pahlawan super terbaik. Spider-Man 3 menutup trilogi pertama. The Amazing Spider-Man dan The Amazing Spider-Man 2 memulai lagi kisahnya dengan pemeran baru.

Venom: Let There Be Carnage mengikuti salah satu musuh lama sang laba-laba dalam ceritanya sendiri, dan dengan 97 menit menjadi film waralaba tersingkat di katalog. Rak ini penting bagi penonton film laba-laba tahun 2021 di rak Marvel, yang mempertemukan tokoh dari ketiga masa.

Rak 04: X-Men

Tujuh film tentang para mutan, dari tahun 2000 sampai 2014, dengan rata-rata rating 6,87. X-Men tahun 2000 sering disebut sebagai film yang membuktikan bahwa pahlawan komik bisa digarap serius.

X2 melanjutkannya dengan rating yang sama, 7,0, dan X-Men: The Last Stand menutup trilogi pertama. Dua film mengikuti si pemilik cakar baja sendirian: X-Men Origins: Wolverine dan The Wolverine, yang berlatar di Jepang.

X-Men: First Class kembali ke tahun enam puluhan untuk menceritakan masa muda para tokohnya, dan X-Men: Days of Future Past, berating 7,5 dan tertinggi di rak, mempertemukan pemeran lama dan baru lewat perjalanan waktu.

Rak 05: DC

Empat film dari semesta saingan, dengan rata-rata rating 6,49. Man of Steel memperkenalkan kembali manusia baja. Batman v Superman: Dawn of Justice mempertemukannya dengan kesatria malam dari kota sebelah.

Wonder Woman memimpin rak dengan 7,2, kisah seorang putri pejuang yang turun ke medan Perang Dunia Pertama. Justice League mengumpulkan semuanya dalam satu tim. Kelima rak pahlawan super, 39 film seluruhnya, dirangkum di Semesta pahlawan super.

Rak 06: dunia sihir Harry Potter

Sepuluh film dengan rata-rata rating 7,67. Delapan di antaranya mengikuti seorang anak yatim dari usia sebelas sampai tujuh belas tahun, satu film untuk tiap tahun sekolah, dengan jilid terakhir dibagi dua.

Harry Potter and the Philosopher's Stone, tahun 2001, membuka pintu sekolah sihir dengan rating 7,9. Harry Potter and the Chamber of Secrets menyusul setahun kemudian. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban mencatat 8,0 dan menandai saat seri ini tumbuh lebih gelap bersama para pemerannya.

Harry Potter and the Goblet of Fire, Harry Potter and the Order of the Phoenix, dan Harry Potter and the Half-Blood Prince membawa cerita menuju perang. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 dan Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menutupnya, dan film terakhir memimpin rak dengan 8,1.

Dua film Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald berlatar puluhan tahun sebelumnya, di dunia sihir yang sama.

Rak 07: Dunia Tengah

Enam film, seluruhnya karya sutradara Peter Jackson, dengan rata-rata rating 7,94, tertinggi di GrandXXI. Tiga film pertamanya termasuk yang paling dihormati dalam sejarah film.

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring dan The Lord of the Rings: The Two Towers sama-sama mencatat 8,4. The Lord of the Rings: The Return of the King mencatat 8,5 dan berdurasi 201 menit, film terpanjang di seluruh katalog.

Sepuluh tahun kemudian, trilogi kedua menceritakan petualangan yang terjadi lebih dulu: The Hobbit: An Unexpected Journey, The Hobbit: The Desolation of Smaug, dan The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Rata-rata durasi rak ini 172 menit. Sediakan akhir pekan panjang dan banyak camilan.

Rak 08: Star Wars

Sebelas film dari tahun 1977 sampai 2019, dengan rata-rata rating 7,22. Inilah semesta tertua di GrandXXI, dan rak ini tersusun menurut urutan rilis, cara yang paling banyak disarankan untuk penonton baru.

Trilogi pertama: Star Wars tahun 1977, berating 8,2, lalu The Empire Strikes Back, berating 8,4 dan tertinggi di rak, dan Return of the Jedi. Tiga film itu mengubah cara film petualangan dibuat dan dijual.

Trilogi kedua mundur ke masa sebelumnya: Star Wars: Episode I - The Phantom Menace, Star Wars: Episode II - Attack of the Clones, dan Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith, yang mencatat 7,5.

Trilogi ketiga meneruskan kisah tiga dasawarsa kemudian: Star Wars: The Force Awakens, Star Wars: The Last Jedi, dan Star Wars: The Rise of Skywalker. Dua film sampingan, Rogue One: A Star Wars Story dan Solo: A Star Wars Story, mengisi celah di antara episode.

Rak 09: bajak laut Karibia

Lima film dengan rata-rata rating 7,16, semuanya berpusat pada seorang kapten bajak laut yang selalu tampak mabuk dan selalu selangkah di depan lawannya.

Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, tahun 2003, memimpin dengan 7,8. Film ini lahir dari sebuah wahana taman hiburan dan di luar dugaan menghidupkan kembali genre bajak laut. Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest dan Pirates of the Caribbean: At World's End menutup trilogi pertamanya.

Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides dan film kelimanya pada 2017 melanjutkan pelayaran dengan awak baru. Keempat rak ini dirangkum di Dunia sihir dan epik.

Rak 10: petualang dan agen rahasia

Dua belas film dengan rata-rata rating 7,06. Di sini berkumpul beberapa seri dan film tunggal tentang orang-orang yang hidupnya berisi kejar-kejaran.

Arkeolog bertopi dan bercambuk hadir dalam tiga film: Indiana Jones and the Temple of Doom, Indiana Jones and the Last Crusade, berating 7,9 dan tertinggi di rak, serta Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull.

Agen rahasia yang gemar bergelantungan hadir dalam Mission: Impossible - Ghost Protocol, Mission: Impossible - Rogue Nation, dan Mission: Impossible - Fallout, yang makin tinggi ratingnya dari film ke film. Detektif London hadir dalam Sherlock Holmes dan Sherlock Holmes: A Game of Shadows. Spectre menghadirkan agen rahasia paling terkenal dari Inggris, dan Cast Away seorang pria yang terdampar sendirian di pulau kosong. The Mummy dan xXx: Return of Xander Cage melengkapi rak.

Rak 11: raksasa dan fiksi ilmiah

Tujuh belas film dengan rata-rata rating 7,15 dan rata-rata durasi 140 menit. Inilah rak layar terbesar: film yang dibuat untuk bioskop paling lebar dengan suara paling keras.

Interstellar memimpin dengan 8,5, salah satu rating tertinggi di katalog, kisah seorang ayah yang menembus lubang cacing demi masa depan anak-anaknya. Dune mencatat 7,8. Avatar dan Avatar: The Way of Water mencatat 7,6, dan film kedua berdurasi 192 menit.

Para raksasa hadir dalam Kong: Skull Island, Godzilla vs. Kong, Pacific Rim, dan Jurassic World: Fallen Kingdom. Robot hadir dalam Transformers dan Transformers: Age of Extinction. Ready Player One dan Alita: Battle Angel membawa penonton ke masa depan yang penuh layar. Lima film lain melengkapi rak: The Matrix Reloaded dan The Matrix Revolutions, War of the Worlds, Oblivion, dan The Fifth Element.

Rak 12: saga remaja

Tujuh film dengan rata-rata rating 6,59, dari masa ketika novel remaja menguasai bioskop. The Hunger Games memimpin dengan 7,2, disusul The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 dan The Hunger Games: Mockingjay - Part 1.

Tiga film vampir, The Twilight Saga: New Moon, The Twilight Saga: Eclipse, dan The Twilight Saga: Breaking Dawn - Part 1, mencatat rating sekitar 6, tetapi punya penggemar paling setia di rak ini. Miss Peregrine's Home for Peculiar Children melengkapinya. Tiga rak petualangan dirangkum di Petualang, raksasa, dan saga remaja.

Rak 13: Indonesia, tokoh dan sejarah

Enam film dengan rata-rata rating 7,17, tertinggi di antara rak Indonesia. Layar besar nasional gemar mengangkat tokoh, dan dua film terbaik di rak ini tentang orang yang sama.

Habibie & Ainun, tahun 2012, dan Rudy Habibie, tahun 2016, sama-sama mencatat 7,7. Yang pertama kisah cinta seorang insinyur pesawat dan istrinya, yang kedua masa mudanya sebagai mahasiswa di Jerman. Soekarno: Indonesia Merdeka mencatat 7,4.

Sokola Rimba karya Riri Riza mengikuti seorang guru di pedalaman Jambi. Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar mengikuti mahasiswi perantau di Singapura. Sayap-Sayap Patah diangkat dari peristiwa yang menimpa aparat pada 2018.

Rak 14: Indonesia, laga

Sebelas film dengan rata-rata rating 6,54. Film laga Indonesia punya akar silat yang kuat, dan rak ini memperlihatkan ragamnya.

Tarung Sarung memimpin dengan 7,4, kisah anak orang kaya yang belajar bela diri tradisional Makassar. 13 Bom di Jakarta mencatat 7,0 dan berdurasi 143 menit. Merantau, tahun 2009, memperkenalkan silat Minang kepada penonton dunia.

Pendekar Tongkat Emas menghidupkan lagi cerita silat klasik di sabana Sumba. Satria Dewa: Gatotkaca membuka semesta pahlawan dari dunia wayang. 3 membayangkan Jakarta masa depan, dan Ben & Jody membawa dua sahabat pemilik kedai kopi ke dalam film laga. The Big 4 dan Hit & Run mencampur laga dengan komedi, 24 Jam Bersama Gaspar mengikuti seorang detektif swasta, dan Valentine menghadirkan jagoan perempuan dari komik.

Rak 15: Indonesia, keluarga

Tujuh film dengan rata-rata rating 6,91. Dancing in the Rain memimpin dengan 8,4, salah satu rating tertinggi di katalog: kisah seorang anak dengan spektrum autis, neneknya, dan dua sahabatnya.

Sabtu Bersama Bapak, berating 7,5, mengikuti seorang ayah yang meninggalkan rekaman video untuk anak-anaknya. Dua Garis Biru, berating 7,3, bercerita tentang dua remaja dan keluarga mereka yang menghadapi kehamilan dini.

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody melanjutkan kisah dua sahabat dan keluarga yang mereka bangun di sekitar kedai. Children of Heaven, Pelangi di Mars, dan Air Mata di Ujung Sajadah melengkapi rak.

Rak 16: Indonesia, cinta dan iman

Lima film dengan rata-rata rating 6,18. Roman bernapas agama adalah jenis cerita yang sangat khas layar besar Indonesia, dan rak ini memuat pelopornya.

Ayat-Ayat Cinta, tahun 2008, karya Hanung Bramantyo, ditonton jutaan orang dan membuka jalan bagi puluhan film serupa. Ayat-Ayat Cinta 2 melanjutkannya di Skotlandia. Wedding Agreement memimpin rak dengan 7,2, kisah pernikahan yang dimulai dengan perjanjian.

Kukejar Cinta ke Negeri Cina dan Setetes Embun Cinta Niyala melengkapi rak.

Rak 17: Indonesia, kisah cinta

Lima belas film dengan rata-rata rating 6,40, rak Indonesia terbesar. Sebuah roman tahun 2025 karya Robert Ronny memimpin dengan 8,2, dan Love for Sale mencatat 7,9 dengan kisah pria paruh baya yang menyewa teman kencan.

Dari pertengahan 2000-an ada Heart dan Realita, Cinta dan Rock'n Roll. Galih & Ratna menceritakan ulang roman remaja legendaris untuk generasi baru. Milea: Suara dari Dilan mengulang kisah Bandung dari sisi sang pemuda, dan Mariposa diangkat dari novel remaja laris.

Surat dari Praha, Punk in Love, Refrain, Aach... Aku Jatuh Cinta, ILY from 38.000 Ft, London Love Story 2, sebuah roman tahun 2024 tentang kejutan dari seorang kekasih, dan Norma: Antara Mertua dan Menantu melengkapi rak. Kelima rak Indonesia dirangkum di Layar besar Indonesia.

Papan dalam angka

Seratus lima puluh satu film, dari 1977 sampai 2026. Seratus tujuh adalah film waralaba dunia dan empat puluh empat film Indonesia. Seluruh katalog berdurasi 19.567 menit, atau 326 jam 7 menit, dengan rata-rata 130 menit per film. Rata-rata ratingnya 7,00.

Menurut kelompok: pahlawan super memuat 39 film, sihir dan epik 32 film, petualangan 36 film, dan Indonesia 44 film. Semesta tunggal terbesar adalah Marvel dengan 23 film, disusul Star Wars dengan 11 film dan dunia sihir dengan 10 film.

Tiga belas film mencatat rating 8,0 atau lebih. Tiga berasal dari Dunia Tengah, dua dari Star Wars, tiga dari Marvel, dua dari dunia sihir, satu dari rak fiksi ilmiah, dan dua dari Indonesia.

Semesta mana yang paling memuaskan

Menurut rata-rata rating, juaranya Dunia Tengah dengan 7,94, lalu dunia sihir dengan 7,67 dan Marvel babak lanjut dengan 7,44. Di belakangnya ada Star Wars dengan 7,22, rak tokoh Indonesia dengan 7,17, bajak laut Karibia dengan 7,16, dan rak fiksi ilmiah dengan 7,15.

Di ujung lain ada cinta dan iman dengan 6,18, kisah cinta Indonesia dengan 6,40, DC dengan 6,49, dan saga remaja dengan 6,59.

Ada pola yang menarik pada semesta yang diangkat dari novel. Dunia Tengah dan dunia sihir, dua semesta dengan sumber buku yang sangat dicintai, memimpin daftar. Cerita yang sudah direncanakan sampai akhir oleh satu penulis tampaknya menghasilkan seri film yang lebih utuh.

Layar besar dan durasi

Film layar besar itu panjang. Rata-rata durasi katalog ini 130 menit, dan film waralaba dunia mencatat rata-rata yang lebih tinggi lagi. Dunia Tengah memimpin dengan 172 menit, disusul bajak laut Karibia dengan 146 menit, dunia sihir dengan 144 menit, dan rak fiksi ilmiah dengan 140 menit.

Lima film terpanjang: The Lord of the Rings: The Return of the King dengan 201 menit, Avatar: The Way of Water dengan 192 menit, Avengers: Endgame dengan 181 menit, dan dua film pertama Dunia Tengah dengan 179 menit.

Film Indonesia lebih ringkas, dengan rata-rata 112 menit. Yang tersingkat di katalog adalah Aach... Aku Jatuh Cinta dengan 85 menit. Saran menyiasati film panjang ada di Durasi layar besar.

Urutan rilis dan urutan cerita

Rak-rak di GrandXXI tersusun menurut urutan rilis, dan itu pilihan yang disengaja. Urutan rilis adalah cara penonton pertama mengalami ceritanya, dengan kejutan yang muncul pada saat yang direncanakan pembuatnya.

Beberapa semesta punya urutan cerita yang berbeda. Star Wars dirilis mulai dari bagian tengah kisahnya. Trilogi Hobbit dirilis sesudah trilogi cincin, padahal ceritanya terjadi lebih dulu. Captain America: The First Avenger berlatar tahun empat puluhan, dan Captain Marvel tahun sembilan puluhan. Dua film Fantastic Beasts berlatar jauh sebelum Harry lahir.

Untuk tontonan pertama, ikuti urutan rilis. Untuk tontonan ulang, cobalah urutan cerita dan rasakan bedanya. Daftar urutan tiap semesta ada di Urutan menonton.

Pita semesta di bawah poster

Tiap poster di GrandXXI membawa tiga tanda. Di sudut kiri atas, dalam kotak emas, ada rating penonton. Di sudut kanan atas ada durasi dalam menit, tanda yang sangat berguna di katalog berisi film panjang. Di bawah poster ada pita gelap bergaris emas dengan nama semestanya.

Ada enam belas tulisan yang mungkin muncul, dari Marvel, Spider-Man, X-Men, dan DC sampai Tokoh, Laga, Keluarga, Cinta & iman, dan Kisah cinta. Dua rak Marvel memakai tulisan yang sama. Penjelasannya ada di Pita semesta.

Halaman film dan tombol Tonton sekarang

Tekan poster untuk membuka halaman film: judul, tahun, durasi, rating, genre, sinopsis berbahasa Indonesia, pemeran utama, dan sutradara. Dari sana Anda juga dapat menyimpan film ke Daftar Saya.

GrandXXI adalah panduan: tugasnya mengenalkan film dan menunjukkan jalannya. Di bagian "Tempat menonton" ada daftar negara dan tombol Tonton sekarang. Pilih negara Anda, tekan tombolnya, dan halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan layanan langganan, sewa, beli, dan gratis yang menyediakannya. Soal bahasa dan teks terjemahan ada di Bahasa dan subtitle.

Pencarian, Daftar Saya, dan ponsel

Kotak pencarian di bilah atas menerima judul, nama pemeran, nama sutradara, dan tahun. Caranya ada di Pencarian.

Daftar Saya menyimpan pilihan Anda di peramban. Gunakan sebagai penanda kemajuan: simpan seluruh film sebuah semesta, lalu keluarkan satu per satu sesudah ditonton. Petunjuknya ada di Panduan Daftar Saya. Di ponsel, papan semesta tersusun menjadi empat blok bertumpuk dan poster tampil dua kolom. Lihat GrandXXI di ponsel.

Dari mana memulai sebuah semesta

Pertanyaan paling sering dari penonton baru adalah film mana yang harus ditonton lebih dulu. Jawaban singkatnya: film pertama di tiap rak. Rak tersusun menurut rilis, dan film paling kiri adalah pintu masuknya.

Untuk Marvel, pintu itu Iron Man. Untuk dunia sihir, Harry Potter and the Philosopher's Stone. Untuk Dunia Tengah, The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring. Untuk Star Wars, film tahun 1977 yang berjudul Star Wars saja. Untuk bajak laut, Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl.

Ada satu pengecualian yang ramah: sebagian semesta bisa dimasuki dari tengah. Black Panther, Doctor Strange, dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings memperkenalkan tokohnya sendiri dan enak ditonton sebagai film tunggal. Demikian pula Rogue One: A Star Wars Story dan Wonder Woman.

Jalur ringkas bagi yang waktunya sempit

Dua puluh tiga film Marvel berdurasi lebih dari lima puluh jam. Bagi yang ingin sampai ke puncak cerita lebih cepat, ada jalur ringkas enam film: Iron Man, Captain America: The First Avenger, The Avengers, Avengers: Age of Ultron, Avengers: Infinity War, dan Avengers: Endgame. Seluruhnya 864 menit.

Untuk Star Wars, tiga film pertama sudah berupa cerita utuh: 377 menit dari Star Wars sampai Return of the Jedi. Untuk Dunia Tengah, trilogi cincin berdiri sendiri dengan 559 menit.

Untuk dunia sihir, jalur ringkas kurang disarankan: tiap film Harry Potter bersandar pada film sebelumnya. Tetapi delapan film itu bisa dibagi menjadi dua liburan, empat film masa kanak-kanak dan empat film masa perang.

Sutradara yang membangun dunia

Di balik tiap semesta ada beberapa tangan yang menentukan. Peter Jackson menyutradarai keenam film Dunia Tengah, satu-satunya semesta di papan ini yang seluruhnya digarap satu orang. David Yates menyutradarai enam dari sepuluh film dunia sihir, termasuk empat Harry Potter terakhir.

George Lucas menciptakan Star Wars dan menyutradarai empat dari sebelas filmnya. Gore Verbinski menyutradarai tiga film bajak laut pertama. Steven Spielberg menyutradarai ketiga film Indiana Jones di rak ini serta Ready Player One.

Di Marvel, Jon Favreau membuka semesta dengan dua film Iron Man, Joss Whedon mengumpulkan timnya dua kali, dan kakak beradik Russo menutup babak besarnya. Zack Snyder menggarap tiga dari empat film DC. Dari Indonesia, Hanung Bramantyo hadir dengan lima film di empat rak, dan Angga Dwimas Sasongko dengan empat film.

Wajah yang menua bersama penonton

Kesenangan khas film semesta adalah melihat pemerannya tumbuh. Tiga pemeran utama Harry Potter mulai pada usia sepuluh atau sebelas tahun dan menyelesaikan film terakhir sebagai orang dewasa. Penonton seusia mereka tumbuh bersama, satu film tiap satu atau dua tahun.

Di Star Wars, para pemeran trilogi pertama kembali tiga puluh dua tahun kemudian dalam Star Wars: The Force Awakens, dengan rambut yang sudah memutih. Di Marvel, tokoh yang diperkenalkan pada 2008 berpamitan pada 2019.

Dari Indonesia, Reza Rahadian memerankan B.J. Habibie dalam dua film dengan jarak empat tahun, sekali sebagai suami dan sekali sebagai mahasiswa. Iqbaal Ramadhan kembali sebagai Dilan dalam Milea: Suara dari Dilan. Waktu yang berlalu di layar terasa nyata karena memang nyata.

Semesta yang lahir dari buku

Banyak dunia di papan ini bermula di halaman buku. Dunia sihir berasal dari tujuh novel. Dunia Tengah berasal dari novel yang ditulis seorang profesor bahasa pada pertengahan abad kedua puluh. Saga remaja di rak 12 berasal dari tiga seri novel laris. Dune berasal dari novel fiksi ilmiah tahun 1965.

Para pahlawan super berasal dari komik, sebagian sudah terbit sejak dasawarsa empat puluhan dan enam puluhan. Detektif dalam dua film Sherlock Holmes berasal dari cerita abad kesembilan belas. Alita: Battle Angel berasal dari komik Jepang, dan Ready Player One dari novel tentang dunia gim.

Film Indonesia mengikuti arus yang sama. Ayat-Ayat Cinta, Mariposa, Sabtu Bersama Bapak, Wedding Agreement, dan dua film Habibie semuanya berangkat dari buku. Bila sebuah film semesta memikat Anda, hampir selalu ada rak buku yang menunggu.

Musuh yang membuat semesta hidup

Sebuah semesta sebesar musuhnya. Star Wars punya sosok bertopeng hitam dengan napas berat yang menjadi penjahat paling dikenal dalam sejarah film. Dunia sihir punya penyihir yang namanya pantang disebut. Dunia Tengah punya sebuah mata menyala di puncak menara.

Marvel membangun musuhnya dengan sabar: raksasa ungu pengumpul batu muncul sekilas pada 2012 dan baru menjadi tokoh utama enam tahun kemudian dalam Avengers: Infinity War. Penonton yang mengikuti dari awal merasakan beratnya kedatangan itu.

Musuh yang baik punya alasan yang bisa dimengerti. Itu sebabnya Black Panther dan X-Men: First Class sering dipuji: lawan sang pahlawan hampir benar. Semesta terbaik membuat penonton berpikir sejenak sebelum memihak.

Semesta untuk ditonton sekeluarga

Sebagian besar film waralaba di papan ini cocok untuk remaja ke atas, dan beberapa semesta ramah bagi anak yang lebih kecil. Dua film pertama Harry Potter dibuat untuk penonton usia sekolah dasar, dan tiap film berikutnya tumbuh setingkat lebih dewasa, seirama dengan pembacanya.

Star Wars trilogi pertama adalah dongeng petualangan yang bisa dinikmati seluruh keluarga. Film bajak laut pertama, The Mummy, dan Indiana Jones and the Last Crusade memberi rasa takut yang menyenangkan bagi anak yang lebih besar.

Dari rak Indonesia, Sokola Rimba dan Children of Heaven cocok untuk ditonton bersama anak, dan Sabtu Bersama Bapak hampir pasti membuka percakapan antara orang tua dan remaja. Baca sinopsis di halaman film dan timbanglah menurut usia anak Anda.

Tiga maraton akhir pekan

Maraton pertama, trilogi cincin: The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring pada Jumat malam, The Lord of the Rings: The Two Towers pada Sabtu, dan The Lord of the Rings: The Return of the King pada Minggu. Seluruhnya 559 menit, sembilan jam sembilan belas menit, dan rata-rata ratingnya 8,4.

Maraton kedua, trilogi asli Star Wars dalam satu hari Sabtu: 377 menit, kurang dari enam setengah jam, dengan jeda makan di antara tiap film.

Maraton ketiga, dua hari Habibie: Rudy Habibie lebih dulu untuk masa mudanya, lalu Habibie & Ainun untuk kisah cintanya. Urutan itu terbalik dari urutan rilis, dan justru mengikuti urutan hidup tokohnya. Seluruhnya 267 menit.

Layar besar Indonesia di samping waralaba dunia

Empat puluh empat film Indonesia di katalog ini berdiri di papan yang sama dengan film-film berbiaya ratusan juta dolar, dan perbandingannya menarik. Rata-rata rating film Indonesia di sini 6,59. Rak tokoh dan sejarah mencatat 7,17, sejajar dengan Star Wars dan bajak laut Karibia.

Film Indonesia punya semestanya sendiri, walau lebih kecil. Dua film Habibie berbagi tokoh. Dua film Ayat-Ayat Cinta berbagi tokoh. Filosofi Kopi 2: Ben & Jody dan Ben & Jody melanjutkan kisah dua sahabat yang sama ke arah yang sangat berbeda. Milea: Suara dari Dilan adalah bagian dari kisah Dilan. Dan Satria Dewa: Gatotkaca dirancang sebagai pembuka semesta pahlawan wayang.

Dua film Indonesia masuk daftar tiga belas film berating 8,0 ke atas, dan salah satunya, Dancing in the Rain, berdiri sejajar dengan The Empire Strikes Back pada angka 8,4. Cerita yang menyentuh hati sanggup menandingi anggaran sebesar apa pun.

Dunia rekaan yang terasa nyata

Semesta yang berhasil punya tempat yang ingin dikunjungi penonton. Sekolah sihir dengan tangga yang berpindah. Desa para hobbit dengan pintu bundar. Planet gurun dengan dua matahari. Kerajaan tersembunyi di Afrika dalam Black Panther. Bulan berhutan dengan gunung melayang dalam Avatar.

Para pembuatnya membangun tempat-tempat itu dengan teliti: bahasa buatan, peta, pakaian, dan sejarah yang sebagian besar berada di luar layar. Pegunungan Selandia Baru menjadi Dunia Tengah, dan sebuah stasiun kereta di London kini punya peron yang didatangi wisatawan.

Film Indonesia melakukan hal serupa dengan tempat sungguhan. Pendekar Tongkat Emas menjadikan Sumba negeri silat. Sokola Rimba membawa penonton ke hutan Jambi. Tarung Sarung memperkenalkan tradisi Makassar. Layar besar adalah cara termurah untuk bepergian jauh.

Musik yang langsung dikenali

Semesta besar punya lagu tema yang dikenali dalam tiga nada. Denting celesta membuka dunia sihir. Terompet megah membuka galaksi nun jauh. Biola dan seruling menandai desa para hobbit. Nada-nada itu ditulis segelintir komponis yang karyanya didengar miliaran orang.

Arkeolog bertopi punya mars petualangannya, para bajak laut punya irama yang membuat kaki mengetuk, dan para Avengers punya tema yang baru terasa utuh ketika semuanya berkumpul. Interstellar memakai orgel gereja untuk menggambarkan luasnya angkasa.

Dari Indonesia, lagu tema Habibie & Ainun dan Ayat-Ayat Cinta diputar di radio selama berbulan-bulan dan masih dinyanyikan di acara pernikahan. Bila sebuah lagu membuat Anda teringat sebuah film, film itu sudah berhasil.

Bekal kecil sebelum memilih

Pertama, pilih semestanya dulu, lalu mulai dari poster paling kiri. Urutan rilis adalah teman penonton baru.

Kedua, lihat lencana durasi sebelum menekan. Banyak film di sini melewati dua setengah jam, dan lebih baik tahu sejak awal.

Ketiga, tonton sampai daftar nama selesai. Film semesta gemar menyimpan satu adegan di ujung.

Keempat, selingi dengan film Indonesia. Sesudah tiga jam pertempuran antargalaksi, sembilan puluh menit kisah keluarga dari negeri sendiri terasa seperti pulang.

Semesta dari tahun ke tahun

Bila semua film waralaba di papan ini dijajarkan menurut tahun, terlihat gelombangnya. Dasawarsa tujuh puluhan dan delapan puluhan diwakili lima film: tiga Star Wars dan dua Indiana Jones. Dasawarsa sembilan puluhan hanya tiga film: The Fifth Element, The Mummy, dan episode pertama Star Wars.

Lalu datang tahun 2000-an, ketika X-Men, Harry Potter, cincin, bajak laut, dan laba-laba lahir hampir bersamaan. Tahun 2001 saja melahirkan dua semesta dari buku: film pertama Harry Potter dan film pertama cincin, yang dirilis berselang beberapa pekan.

Dasawarsa 2010-an adalah puncaknya, dengan Marvel merilis dua atau tiga film setahun. Tahun 2018 dan 2019 menyumbang paling banyak judul. Sesudah 2020, arusnya melambat, dan perhatian bergeser ke layanan streaming serta ke film-film dari negeri sendiri.

Seri terpanjang dan terpendek

Seri terpanjang di papan ini adalah Marvel dengan 23 film dalam lima belas tahun. Sesudahnya Star Wars dengan sebelas film dalam 42 tahun, lalu Harry Potter dengan delapan film dalam sepuluh tahun, dan X-Men dengan tujuh film dalam empat belas tahun.

Di sisi lain ada seri yang ringkas. Sherlock Holmes hadir dengan dua film, demikian pula Avatar, Transformers, dan Fantastic Beasts di katalog ini. Interstellar, Dune, Pacific Rim, dan Ready Player One hadir sendirian.

Panjang seri jarang sejalan dengan mutunya. Dunia Tengah, dengan enam film, mencatat rata-rata tertinggi. Dan film tunggal seperti Interstellar berdiri di puncak daftar rating bersama film ketiga cincin. Yang menentukan adalah apakah ceritanya tahu kapan harus selesai.

Semesta yang selesai dengan baik

Menutup cerita panjang adalah pekerjaan tersulit, dan beberapa semesta melakukannya dengan sangat baik. The Lord of the Rings: The Return of the King mencatat rating tertinggi di raknya dan di seluruh katalog. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 adalah film Harry Potter berating tertinggi. Avengers: Endgame menyamai rating pendahulunya.

Ketiganya punya persamaan: penonton sudah menunggu bertahun-tahun, dan film penutup memberi tiap tokoh perpisahan yang pantas. Rasa puas itu tercermin pada angka.

Penutup yang kurang disambut juga ada di papan ini, dan dari keduanya penonton belajar hal yang sama: akhir yang baik adalah hadiah terbesar sebuah semesta bagi pengikutnya.

Film kedua yang melampaui film pertama

Ada kepercayaan lama bahwa film kedua adalah yang terbaik dalam sebuah trilogi, dan papan ini memberi beberapa bukti. The Empire Strikes Back mencatat 8,4, di atas film pertamanya. Spider-Man 2 memimpin raknya. X-Men: Days of Future Past dan The Hobbit: The Desolation of Smaug masing-masing memimpin trilogi atau babaknya.

Alasannya masuk akal. Film pertama sibuk memperkenalkan dunia. Film kedua sudah bebas bercerita, dan sering berani berakhir dengan kekalahan sementara bagi sang pahlawan.

Seri Mission: Impossible di rak petualang menunjukkan pola lain yang langka: ratingnya naik terus dari 7,1 ke 7,2 lalu 7,5. Ada waralaba yang makin matang seiring usia.

Mengapa film ini dibuat untuk layar besar

Nama GrandXXI mengingatkan pada gedung bioskop, dan katalog ini berisi film yang dibuat untuk gedung semacam itu. Pertempuran di lembah dengan puluhan ribu prajurit, kapal yang jatuh ke pusaran air raksasa, dan planet yang ombaknya setinggi gunung dirancang untuk layar selebar dinding.

Menontonnya di rumah tetap menyenangkan dengan sedikit persiapan. Matikan lampu, keraskan suara secukupnya, dan simpan ponsel di ruangan lain. Untuk film di atas dua setengah jam, sepakati satu jeda di tengah.

Film Indonesia di katalog ini pun dibuat untuk ditonton bersama. Tawa dan isak di Habibie & Ainun atau Sabtu Bersama Bapak terasa lebih penuh ketika ada orang lain di sofa yang sama.

Tebak semestanya

Cobalah permainan ini bersama teman. Sebutkan judul, lalu tebak raknya. Venom: Let There Be Carnage: banyak yang menebak Marvel, tetapi ia berdiri di rak Spider-Man di luar Avengers. The Wolverine: rak X-Men. Rogue One: A Star Wars Story: Star Wars, walau judulnya menaruh nama seri di belakang.

Fantastic Beasts and Where to Find Them: dunia sihir. Kong: Skull Island dan Godzilla vs. Kong: keduanya bagian dari satu semesta monster, dan di sini berdiri di rak raksasa dan fiksi ilmiah. Ben & Jody: rak laga Indonesia, sedangkan pendahulunya berdiri di rak keluarga.

Setelah sepuluh tebakan, Anda akan hafal peta papan ini, dan siap menjadi pemandu bagi teman yang baru mulai.

Pahlawan perempuan di layar besar

Semesta film lama didominasi tokoh pria, dan papan ini merekam perubahannya. Wonder Woman, tahun 2017, memimpin rak DC. Captain Marvel dan Black Widow memberi dua pahlawan Marvel film mereka sendiri. Tiga film The Hunger Games dipimpin seorang pemanah remaja yang menjadi lambang perlawanan.

Trilogi terakhir Star Wars menaruh seorang pemulung gurun di pusat cerita. Alita: Battle Angel mengikuti gadis mesin yang mencari ingatannya. Dan di dunia sihir, penyihir paling cerdas di kelasnya menyelamatkan dua sahabatnya dalam hampir tiap film.

Dari Indonesia, Sokola Rimba mengikuti seorang guru perempuan di hutan, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar seorang mahasiswi perantau, dan Pendekar Tongkat Emas seorang pendekar perempuan yang mewarisi jurus gurunya. Layar besar makin lapang bagi siapa pun yang punya cerita.

Persahabatan yang menggerakkan semesta

Di balik perang dan sihir, hampir tiap semesta bertumpu pada persahabatan. Dunia sihir adalah kisah tiga sahabat yang bertemu di kereta pada usia sebelas tahun. Dunia Tengah adalah kisah seorang tukang kebun yang menolak meninggalkan tuannya di lereng gunung api.

Star Wars punya penyelundup dan rekannya yang berbulu, serta dua robot yang bertengkar seperti pasangan tua. Marvel dibangun di atas tarik-ulur antara seorang jenius kaya dan seorang prajurit lurus hati. Bajak laut Karibia punya kapten licik dan pandai besi jujur.

Film Indonesia di rak laga dan keluarga memegang benang yang sama: tiga sahabat seperguruan dalam 3, dan dua pemilik kedai dalam Ben & Jody. Ledakan menarik penonton masuk, tetapi persahabatanlah yang membuat mereka kembali.

Tokoh yang paling sering muncul

Menghitung kemunculan tokoh di papan ini memberi gambaran tentang siapa penopang tiap semesta. Di Marvel, sang jenius berbaju besi muncul dalam sembilan film katalog ini. Si laba-laba, dengan tiga pemeran berbeda, juga muncul dalam sembilan film di dua rak.

Penyihir berkacamata tentu muncul dalam delapan film. Si pemilik cakar baja muncul dalam tujuh film rak X-Men. Kapten bajak laut muncul dalam lima film, dan arkeolog bertopi dalam tiga.

Dari Indonesia, B.J. Habibie menjadi tokoh utama dua film, dan Ben serta Jody juga dua film. Tokoh yang kuat adalah mata uang paling berharga bagi sebuah waralaba, di Hollywood maupun di sini.

Sesudah satu semesta selesai

Apa yang ditonton sesudah menamatkan sebuah semesta? Papan ini menawarkan beberapa jembatan. Sesudah dunia sihir, cobalah Miss Peregrine's Home for Peculiar Children untuk sekolah ajaib yang lain, atau Dunia Tengah untuk sihir yang lebih tua.

Sesudah Marvel, rak X-Men dan Spider-Man lama memperlihatkan dari mana film pahlawan super berasal. Sesudah Star Wars, Dune dan Interstellar menawarkan angkasa yang lebih sunyi dan lebih serius.

Dan sesudah semuanya, bukalah lima rak Indonesia. Dari galaksi nun jauh ke ruang keluarga di Bandung adalah lompatan yang menyegarkan, dan Habibie & Ainun atau Sabtu Bersama Bapak mengingatkan bahwa cerita terbesar sering kali tentang dua orang dan sebuah rumah.

Dari miniatur ke dunia digital

Papan ini juga merekam sejarah efek visual. Star Wars tahun 1977 dibuat dengan miniatur kapal yang difilmkan kamera bergerak, dan hasilnya mengubah industri. Dua film Indiana Jones dari dasawarsa delapan puluhan memakai pemeran pengganti, lukisan latar, dan ledakan sungguhan.

Trilogi cincin memperkenalkan makhluk digital yang digerakkan seorang aktor, dan sejak itu tokoh rekaan komputer bisa berakting. Avatar melangkah lebih jauh dengan membangun seluruh bulan berhutan di dalam komputer. Kong: Skull Island dan Godzilla vs. Kong menghadirkan raksasa yang bulunya bergerak helai demi helai.

Menonton rak Star Wars dari kiri ke kanan adalah pelajaran singkat tentang empat dasawarsa teknologi film. Dan menariknya, film tertua di rak itu tetap termasuk yang paling dicintai. Efek menua, cerita yang baik bertahan.

Semesta Indonesia yang sedang tumbuh

Perfilman Indonesia mulai membangun semestanya sendiri, dan beberapa benihnya ada di papan ini. Satria Dewa: Gatotkaca mengambil tokoh wayang dan menaruhnya di kota masa kini, dengan rencana film-film lanjutan tentang kesatria lain. Dua film tentang Ben dan Jody memperlihatkan tokoh yang berpindah genre, dari drama kedai kopi ke film laga.

Kisah Dilan kini merentang beberapa film dari beberapa sudut pandang, dan Milea: Suara dari Dilan adalah salah satunya. Dua film Habibie membentuk biografi bersambung yang jarang ada di layar kita.

Semesta butuh waktu dan kesabaran penonton. Marvel memerlukan empat tahun dan lima film sebelum para pahlawannya berkumpul. Dengan cerita rakyat, wayang, dan komik lama sebagai bahan, layar besar Indonesia punya gudang yang sama kayanya.

Bekal untuk film tiga jam

Film sepanjang Avengers: Endgame atau Avatar: The Way of Water layak diperlakukan seperti perjalanan jauh. Siapkan minum dan camilan sebelum menekan tombol putar, pilih kursi yang nyaman, dan beri tahu seisi rumah bahwa Anda akan sibuk sampai larut.

Bila menonton bersama anak, bagilah film menjadi dua malam pada titik yang tenang di tengah cerita. Trilogi cincin bahkan enak dibagi tiga malam per film bagi penonton kecil yang cepat mengantuk. Layar besar adalah soal kesabaran, dan hadiahnya sepadan.

Lima langkah untuk kunjungan pertama

Langkah pertama: lihat papan semesta di beranda dan pilih satu dari empat kelompok. Langkah kedua: tekan salah satu rak di dalamnya. Baris posternya terbuka dalam urutan rilis.

Langkah ketiga: mulailah dari poster paling kiri, baca pita, rating, dan durasinya, lalu tekan. Langkah keempat: baca sinopsis dan lihat pemerannya. Langkah kelima: pilih negara Anda dan tekan Tonton sekarang untuk melihat layanan yang menayangkannya secara resmi.

Seluruh proses memakan waktu sekitar dua menit. Uraian tiap langkah, lengkap dengan pintu masuk tiap semesta, ada di Mulai di GrandXXI.

Yang dijaga GrandXXI

Tiap film punya tepat satu rak, sehingga tujuh belas rak itu bersih dari tumpang-tindih dan jumlahnya selalu 151. Tiap rak tersusun menurut tanggal rilis. Angka di halaman ini dihitung dari katalog itu sendiri.

Sinopsis ditulis dalam bahasa Indonesia. Rating adalah rata-rata penilaian penonton dan ditampilkan apa adanya, yang tinggi maupun yang rendah. Tombol Tonton sekarang selalu mengarah ke halaman pencarian layanan resmi.

Dan papan ini akan tetap sederhana: empat kelompok, tujuh belas rak, satu pita per film.

Pertanyaan yang sering diajukan

Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering datang ada di bawah ini. Versi panjangnya ada di halaman Tanya jawab.

Lampu padam, layar menyala

Semesta film adalah cerita bersambung terbesar yang pernah dibuat manusia. Puluhan film, ratusan tokoh, dan jutaan penonton yang menunggu bertahun-tahun untuk tahu akhirnya. GrandXXI hanya merapikan urutannya di satu papan, lalu menaruh layar besar Indonesia tepat di sebelahnya.

Pilih satu semesta malam ini. Mulai dari poster paling kiri. Dan ketika daftar nama mulai bergulir, tetaplah duduk sebentar lagi. Selamat memilih, dan selamat menonton.

Pertanyaan

Apa itu GrandXXI?

GrandXXI adalah panduan film berbahasa Indonesia yang menyusun 151 film layar besar menurut semesta ceritanya. Ada tujuh belas rak: dua belas untuk waralaba dunia seperti Marvel, Star Wars, dan Harry Potter, dan lima untuk film Indonesia.

Dalam urutan apa film ditampilkan?

Tiap rak tersusun menurut tanggal rilis, dari yang tertua di kiri. Urutan rilis adalah urutan menonton yang disarankan bagi penonton baru.

Di mana saya bisa menonton filmnya?

Buka halaman film, pilih negara Anda di bagian Tempat menonton, lalu tekan Tonton sekarang. Halaman judul itu terbuka di JustWatch dengan daftar layanan resmi yang menyediakannya.

Semesta mana yang paling banyak filmnya?

Marvel dengan 23 film dalam dua rak, disusul Star Wars dengan 11 film dan dunia sihir Harry Potter dengan 10 film.

Semesta mana yang ratingnya paling tinggi?

Dunia Tengah dengan rata-rata 7,94, disusul dunia sihir dengan 7,67 dan Marvel babak lanjut dengan 7,44.

Film mana yang paling panjang?

The Lord of the Rings: The Return of the King dengan 201 menit, disusul Avatar: The Way of Water dengan 192 menit dan Avengers: Endgame dengan 181 menit.

Dari film mana sebaiknya mulai menonton Marvel?

Dari Iron Man, tahun 2008, film pertama di rak Marvel babak awal. Bagi yang waktunya sempit, ada jalur enam film dari Iron Man sampai Avengers: Endgame.

Apa arti pita di bawah poster?

Pita itu menyebut semesta film, misalnya Marvel, Star Wars, atau Dunia sihir. Kotak emas di poster adalah rating dan lencana gelap adalah durasi dalam menit.

Bisakah GrandXXI dibuka di ponsel?

Bisa. Papan semesta tersusun menjadi empat blok bertumpuk, poster tampil dua kolom, dan menu ringkas terbuka dari tombol di sudut atas.

Bagaimana cara menyimpan film?

Tekan tombol Daftar Saya di halaman film. Daftar tersimpan di peramban Anda dan bisa dibuka kapan saja dari menu atas.